Selasa, 10 Juli 2012

Ceritaku tentang Bromo...


Bromo dan Pananjakan di foto dari lautan pasir

Gunung Bromo yang terletak di Jawa Timur menyuguhkan banyak sekali pesona keindahan alamnya. Tidak salah jika akhirnya menjadi magnet kuat wisatawan di segala penjuru dunia untuk datang menikmati pesona yang di tawarkannya.



Tidak ada seorangpun yang meragukan tentang keindahan pesona alam gunung Bromo. Banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara, setelah berkunjung merasa puas dan berkeinginan hiking kembali pada suatu saat nanti. Lautan pasir, keindahan sunrise di Penanjakan, dan keramahan suku Tengger seakan satu paket yang komplit hingga membuat siapapun rindu suasananya kembali.

keran juga ya gue...
Waktu itu gue pergi kesana berdua sama sobat gue si Djawa (nama aslinya mah Sudarwoto). waktu itu liburan Natal 2011. Start dari St. Senen naek Kereta matarmaja sampe karatan ke St. Malang. Di Malang jemput Ade gue yang kuliah disana biar ikutan jalan-jalan sama kita berdua. dari Malang lanjut lagi ke terminal probolinggo untuk naik angkutan yang menuju ke Desa Tengger.

Si Djawa di Matarmaja
 Di angkutan ke desa Tengger gue kenalan sama teman-teman baru namanya Ika, Iid, chandra, Roni (petualang dari Surabaya), Om anto (Onthel-ers sejati), dan Om Andi (Jagawana Bromo). perjalanan diselimuti kabut dengan jurang-jurang yang curam. 

  
Di Terminal Bayuangga - Probolinggo


Pemandangan dari dalam angkot ke desa Tengger

Ade gue sama si Djawa didepan base camp
 Sampai di desa kami diajak Om Andi buat nginep di Basecamp Jagawana Bromo. Sekitar jam 5 pagi kita semua menuju puncak Bromo dengan melewati lautan pasir. debu-debu beterbangan bersamaan dengan lewatnya Jeep-Jeep serta ojek motor para wisatawan. slayer pun kami gunakan buat nutupin idung. Bromo saat itu udah kaya di pasar, penuh banget sama orang 260 anak tangga berasa berat banget karena berdesakan sama orang banyak. udah gitu pas di puncak yang cuma setapak itu sudah didudukin orang-orang yang mau melihat sunrise. dibutuhkan kewaspadaan, dan kejelian mata buat melintas (takut-takut nginjek kaki orang trus diceburin ke kawah (^_^) ). tapi semua itu ga sia-sia saat mentari muncul di ufuk timur, diiringi lautan awan yang menampilkan sebuah keindahan alam yang sangat indah.

Sunrise di Puncak Bromo



 Setelah cape foto-foto dan juga matahari yang sudah agak tinggi kami pulang ke basecamp untuk bersiap-siap pulang ke Jakarta. Sebuah keindahan alam ciptaan Tuhan dan teman-teman baru yang memiliki hobby yang sama merupakan suatu anugerah dari Tuhan yang sangat gue syukurin. Thank's Allah. kapan kita bertualang bareng lagi Friend..??

Foto bersama di puncak Bromo

Om Anto - Goes Onthel  Jakarta - Bromo

Ika - Bu Guru yang hobby bertualang

Ade Gue yang punya Hobby sama dengan gue

Iid - Sobatnya Ika


Foto bareng Sepeda onthelnya Om Anto
Si Djawa yang sering nemenin gue ngebolang

Edelweis - Sang Bunga Abadi


Edelweis Anaphalis javanica adalah tumbuhan gunung yang terkenal, tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian 8 m dan memiliki batang sebesar kaki manusia, tetapi tumbuhan yang cantik ini sekarang sangat langka. Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. 

Perhatikan daunnya yang panjang, tipis dan berbulu lebat serta bagian tengah bunganya yang berwarna oranye dan kepala bunga yang menyerupai bunga aster. Bunga Edelweis bisa mencapai umur lebih dari 100 tahun, untuk itulah disebut bunga abadi. Jenis ini tumbuhan perintis yang kuat dan mulai mendiami lereng yang tandus akibat kebakaran. Edelweis cocok tumbuh pada kondisi panas terik di daerah terbuka di kawah dan puncak, tidak bisa bersaing untuk tumbuh di hutan yang gelap dan lembab. 

Bunga-bunganya sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan dan lebah terlihat mengunjunginya. Jika tumbuhan ini cabang cabangnya dibiarkan tumbuh cukup kokoh, edelweis dapat menjadi tempat bersarang bagi burung tiung batu licik Myophonus glaucinus. Bagian-bagian edelweis sering dipetik dan dibawa turun dari gunung untuk alasan-alasan estetis dan spiritual, atau sekedar kenang-kenangan oleh para pendaki. Dalam batas tertentu dan sepanjang hanya potongan - potongan kecil yang dipetik, tekanan ini dapat dihadapi. Sayangnya keserakahan serta harapan-harapan yang salah telah mengorbankan banyak populasi, terutama populasi yang terletak di jalan-jalan setapak. 

Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa edelweis dapat diperbanyak dengan mudah melalui pemotongan cabang-cabangnya. Oleh karena itu potongan-potongan itu mungkin dapat dijual kepada pengunjung untuk mengurangi tekanan terhadap populasi liar. 

Ingat..!!! Jangan Dipetik..!! dicium boleh lah.. (^_^)

Edelweis di G. Merbabu